Jakarta - Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak naik dan menyentuh level US$ 65.500 atau setara sekitar Rp 1,17 miliar dengan kurs Rp 17.946 per dolar AS. Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima pekan perdagangan terakhir.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah aset kripto utama lainnya. Ethereum (ETH) diperdagangkan di kisaran US$ 1.880, XRP berada di sekitar US$ 1.11, sedangkan Solana (SOL) tercatat pada level US$ 75.80.
Sentimen Pasar Mulai Pulih
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, menilai pergerakan ini menjadi tanda awal kembalinya sentimen positif di pasar kripto. Menurut dia, optimisme tersebut ditopang oleh perkembangan regulasi, meningkatnya minat investor institusi, serta perhatian pasar terhadap sejumlah agenda ekonomi global.
Aloysia mengatakan, pergerakan pasar saat ini menunjukkan industri aset kripto semakin matang. Pembentukan harga, kata dia, kini makin dipengaruhi faktor fundamental seperti kebijakan ekonomi, perkembangan regulasi, dan partisipasi investor institusi.
“Penguatan yang terjadi tidak hanya terlihat pada Bitcoin, tetapi juga mulai diikuti oleh sejumlah aset kripto berkapitalisasi besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa sentimen positif mulai dirasakan oleh pasar secara lebih luas. Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Regulasi AS Jadi Perhatian
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang ikut membangun optimisme adalah kejelasan arah regulasi aset kripto di Amerika Serikat (AS). Dengan besarnya kapitalisasi pasar keuangan di negara itu, kepastian regulasi kripto dinilai dapat meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, memberi kepastian hukum bagi industri aset kripto, dan mendorong keterlibatan investor institusi dalam jangka panjang.
Selain itu, pembahasan kebijakan CLARITY Act juga menunjukkan sinyal positif setelah kerangka etika regulasi tersebut disetujui. Perkembangan ini menjadi salah satu sentimen yang dicermati pasar karena membuka harapan terhadap ekosistem aset digital yang lebih jelas dan terstruktur.
Arus Dana ETF Kembali Masuk
Dalam momentum yang sama, Spot Bitcoin ETF di AS kembali mencatat arus dana bersih atau net inflow pada periode 20-23 Juli dengan total sekitar US$ 273,87 juta. Meski bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi harga, arus dana tersebut menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap eksposur Bitcoin masih terjaga.
Di sisi lain, pasar juga masih menunggu sejumlah agenda ekonomi yang akan datang. Salah satunya adalah keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan musim laporan keuangan dari beberapa perusahaan teknologi besar di AS.
Alphabet, Tesla, hingga Intel disebut menjadi sentimen bagi aset berisiko seperti kripto. Dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan Bitcoin juga cenderung memiliki korelasi dengan saham sektor teknologi.
Kripto Makin Terkait Pasar Global
Meski demikian, kondisi ini disebut menunjukkan bahwa pasar kripto semakin terintegrasi dengan dinamika pasar keuangan global. Aloysia mengingatkan investor agar melihat setiap perkembangan secara menyeluruh dan tidak hanya berfokus pada pergerakan harga jangka pendek.
“Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang,” tutupnya.



