Headline1
Teknologi

Drone Tak Kasat Mata Berhasil Dibuat: Seberapa Besar Potensi Teknologi Ini untuk Sipil dan Militer?

28 Juli 2026
•3 menit
black DJI Mavi quadcopter near body of water

Jakarta - Sebuah drone baru yang nyaris tak terlihat berhasil dibuat dan menjadi sorotan karena mampu melaju sangat cepat hingga tampak buram di mata. Perangkat ini dirancang sedemikian rupa sehingga sulit dikenali secara visual saat terbang, bukan karena benar-benar menghilang, melainkan akibat efek kabur yang muncul dari gerakannya yang ekstrem.

Teknologi tersebut dikembangkan oleh sejumlah insinyur di Northwestern University. Drone ini memiliki rancangan yang sangat sederhana, berupa rangka kawat dan satu baling-baling. Meski bentuknya minimalis, baling-baling itu dapat berputar hingga 25 kali per detik, kecepatan yang terlalu tinggi untuk ditangkap jelas oleh penglihatan manusia.

Terlihat seperti bercak buram saat bergerak

Dalam video demonstrasi yang ditampilkan, drone itu memang tidak benar-benar lenyap dari pandangan. Namun, gerakannya yang sangat cepat membuat wujudnya berubah menjadi bercak kabur yang menyatu dengan latar belakang. Efek ini membuat perangkat tersebut tampak seperti kabut tipis, alih-alih objek terpisah yang mudah dikenali.

“Mata manusia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan sinyal, kira-kira analog dengan waktu pencahayaan kamera,” kata Emma Alexander, asisten profesor ilmu komputer di McCormick School of Engineering, Northwestern, dalam sebuah pernyataan.

“Ketika suatu objek berputar cepat, kita mempersepsikannya sebagai objek yang kabur dan kehilangan fitur-fitur yang jelas. Karena drone baru ini hampir seluruhnya transparan, beberapa komponen buramnya secara visual dirata-ratakan dengan latar belakang sehingga secara keseluruhan tampak seperti kabut tipis,” tambah Alexander, yang juga seorang ahli dalam visi komputer.

Dirancang dengan bantuan kecerdasan buatan

Menariknya, desain drone ini tidak lahir dari pendekatan konvensional semata, melainkan hasil kerja kecerdasan buatan atau AI. Metode serupa sebelumnya juga pernah dicoba oleh Northwestern. Dalam prosesnya, tim menggunakan simulasi komputer untuk meniru seleksi alam, dengan menyingkirkan rancangan-rancangan yang dinilai paling tidak efektif sampai akhirnya tersisa desain terbaik yang kemudian diwujudkan.

Para peneliti memulai dengan model komputasi yang menghasilkan sekitar 20.000 kemungkinan konfigurasi drone yang mampu terbang stabil. Setelah itu, algoritma optimasi berbasis AI berulang kali menyusun ulang komponen-komponen utamanya, termasuk motor, baling-baling, papan sirkuit, penyeimbang, dan baterai. Seluruh proses tersebut dilakukan untuk menemukan susunan yang paling optimal.

Kandidat yang dianggap paling kuat kemudian diuji lagi dalam simulasi yang dibuat mendekati cara penglihatan manusia bekerja, guna melihat seberapa mencolok masing-masing desain. Setelah melalui beberapa putaran optimasi tambahan, tim pun menetapkan rancangan akhir dan membuatnya di dunia nyata.

Potensi penggunaan sipil dan militer

Michael Rubenstein, Profesor Madya Ilmu Komputer dan Teknik Mesin di Northwestern yang memimpin pekerjaan ini, mengatakan bahwa selama ini banyak upaya untuk menyamarkan drone berfokus pada membuat perangkat tampak seperti lingkungan di sekitarnya. Pendekatan yang mereka ambil berbeda.

“Sebagian besar upaya untuk menyembunyikan drone berfokus pada membuatnya tampak seperti lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, kami bertanya apakah kami dapat mendesain drone itu sendiri berdasarkan cara manusia mempersepsikan gerakan,” ujar Michael Rubenstein.
“Gagasan visibilitas rendah melalui gerakan yang terus-menerus ini adalah sesuatu yang jarang dieksplorasi oleh orang lain,” imbuhnya.

Para peneliti menyebut drone semacam ini berpotensi dipakai untuk memantau satwa liar, melakukan survei lingkungan, serta memeriksa infrastruktur dengan gangguan visual yang minimal. Namun, perangkat yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk pengawasan rahasia atau kebutuhan militer, meski bukan itu tujuan yang diajukan para peneliti.

Proyek ini dipresentasikan dalam konferensi Robotics: Science and Systems 2026 pada 16 Juli di Sydney, Australia. Demikian melansir IFLScience.

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Teknologi.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar