Saham-saham perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan tajam sepanjang pekan ini. Dua emiten yang paling terpukul adalah Alphabet, induk Google, dan Tesla, setelah nilai pasar keduanya menyusut hampir 500 miliar dollar AS atau sekitar Rp 8.961 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.922 per dollar AS.
Pergerakan itu mencerminkan perubahan sikap investor terhadap perlombaan investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Jika sebelumnya pasar cenderung memberi apresiasi pada belanja AI yang besar, kini perhatian investor bergeser pada pertanyaan tentang seberapa besar keuntungan yang benar-benar bisa dihasilkan dari investasi tersebut.
Belanja AI Besar, Saham Justru Tertekan
Sepanjang pekan, Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Tesla—lima perusahaan dengan belanja AI terbesar—mencatat penurunan harga saham rata-rata sekitar 9 persen. Di sisi lain, saham perusahaan yang memasok infrastruktur AI justru bergerak naik. Kelompok ini mencakup produsen chip, pembuat server, hingga pengelola pusat data atau data center, dengan kenaikan rata-rata sekitar 11 persen.
Pola tersebut menunjukkan pasar tengah membedakan antara perusahaan yang menggelontorkan dana besar untuk AI dan perusahaan yang menyediakan perangkat pendukungnya. Dalam kondisi ini, saham emiten belanja besar justru berada di bawah tekanan, sementara pemasok infrastruktur AI memperoleh penguatan.
Alphabet Ditekan Lonjakan Capex
Alphabet sebenarnya merilis laporan keuangan yang tergolong kuat. Pendapatan perusahaan naik 24 persen secara tahunan, sementara bisnis Google Cloud melonjak 82 persen. Namun, capaian tersebut tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran investor.
Saham Alphabet tetap turun sekitar 8 persen, yang memangkas kapitalisasi pasarnya sekitar 330 miliar dollar AS atau setara Rp 5.914 triliun. Fokus pasar justru tertuju pada belanja modal atau capital expenditure (capex) perusahaan yang naik hampir dua kali lipat menjadi 45 miliar dollar AS atau sekitar Rp 806,5 triliun.
Belanja itu bahkan lebih besar daripada arus kas yang dihasilkan perusahaan, sehingga arus kas bebas atau free cash flow menjadi negatif untuk pertama kalinya sejak Alphabet tercatat di bursa saham. Kekhawatiran investor makin dalam setelah manajemen Alphabet kembali menaikkan target belanja AI tanpa menetapkan batas pengeluaran untuk 2027.
Tesla Juga Terpukul Penurunan Laba
Tekanan serupa dialami Tesla. Meski pendapatan produsen mobil listrik itu melampaui perkiraan analis, laba bersihnya jauh di bawah proyeksi. Margin operasinya juga menyusut menjadi 1,4 persen dari 4,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Akibatnya, saham Tesla anjlok 18 persen dalam sepekan. Nilai pasar perusahaan menyusut sekitar 250 miliar dollar AS atau setara Rp 4.481 triliun, menjadi penurunan mingguan terdalam sejak 2022.
Dengan demikian, koreksi besar pada saham Alphabet dan Tesla menjadi bagian dari perubahan sentimen yang lebih luas di kalangan investor teknologi. Pasar kini tampak lebih berhati-hati dalam menilai apakah belanja besar untuk AI dapat segera berbuah hasil yang sepadan.




