Headline1
Ekonomi

Harga Minyak Brent Mendekati US$100, Konflik Timur Tengah Bisa Tekan Biaya Energi di Indonesia

8 September 2026
•2 menit
Harga Minyak Brent Mendekati US$100, Konflik Timur Tengah Bisa Tekan Biaya Energi di Indonesia Ekonomi

NEW YORK – Harga minyak dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Kamis (3/9/2026), di tengah masih berlanjutnya serangan Iran terhadap sejumlah negara sekutu Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.

Kenaikan ini muncul setelah Kuwait berhasil mencegat rudal dan drone yang memasuki wilayahnya. Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan minyak global, terutama jalur pengiriman yang melewati Selat Hormuz.

Brent dan WTI sama-sama menguat

Merujuk data perdagangan yang dikutip CNBC, harga minyak mentah Brent naik 57 sen menjadi 96,20 dollar AS per barrel. Pada awal perdagangan, harga Brent bahkan sempat menembus 97 dollar AS per barrel.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS bertambah 85 sen menjadi 91,86 dollar AS per barrel. Dengan pergerakan tersebut, harga minyak dunia tercatat telah menguat lebih dari 7 persen sepanjang pekan ini.

Penguatan harga minyak terjadi saat tensi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan militer sepanjang pekan ini, untuk pertama kalinya sejak Juli 2026.

Kuwait hadapi serangan rudal dan drone

Dalam perkembangan terbaru, angkatan bersenjata Kuwait menyebut negaranya sedang menghadapi agresi Iran yang terus berlangsung. Pertahanan udara Kuwait juga dilaporkan terlibat dalam upaya mencegat rudal dan drone yang masuk ke wilayah negara tersebut.

Peristiwa itu menjadi perhatian serius pasar minyak karena kawasan Teluk merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan keamanan di wilayah ini berpotensi mempengaruhi kelancaran distribusi energi global.

SHUTTERSTOCK/BOB63 Ilustrasi kapal tanker.

Selat Hormuz kembali jadi fokus pasar

Salah satu titik yang paling disorot pelaku pasar adalah Selat Hormuz. Selat yang berada di antara Iran dan Oman itu merupakan jalur strategis bagi lalu lintas minyak dunia. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026, sekitar 20 juta barrel minyak mentah dan produk minyak melintasi selat tersebut setiap hari.

Di tengah konflik yang masih berlangsung, arus minyak melalui Selat Hormuz sejauh ini tetap berjalan. Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan, lebih dari 17 juta barrel minyak telah melintasi Selat Hormuz pada Senin.

Menurut Wright, volume itu merupakan rekor pada masa perang dan berlangsung di bawah perlindungan militer AS. Kondisi ini menegaskan betapa pentingnya selat tersebut bagi stabilitas pasokan energi dunia di tengah ketegangan yang belum mereda.

AFP Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026.

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Ekonomi.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar