Headline1
Ekonomi

Harga Minyak Dunia Nyaris Tembus USD 100: Apa Dampaknya ke BBM dan Inflasi Indonesia?

27 Juli 2026
•3 menit
a man in a red hat and a man in a blue jacket and a red

HOUSTON - Harga minyak dunia masih mencatat penguatan tajam sepanjang pekan ini, meski pada perdagangan Jumat (24/7/2026) waktu setempat atau Sabtu (25/7/2026) pagi WIB terkoreksi lebih dari 3 persen.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup turun 3,88 persen atau 3,91 dollar AS menjadi 96,78 dollar AS per barrel. Sehari sebelumnya, Brent sempat menembus 100 dollar AS per barrel untuk pertama kalinya sejak Mei. Walau melemah di akhir pekan, harga Brent tetap naik hampir 10 persen secara mingguan.

Brent dan WTI Sama-Sama Naik dalam Sepekan

Tekanan serupa juga terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat. Pada penutupan perdagangan Jumat, WTI melemah 3,12 persen atau 2,88 dollar AS ke level 89,31 dollar AS per barrel. Meski begitu, secara mingguan WTI masih menguat sekitar 8,27 persen.

Pergerakan harga minyak yang sempat melonjak selama sepekan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas pasokan energi global. Saling serang rudal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, berkurangnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta serangan kelompok Houthi Yaman terhadap kapal-kapal di Laut Merah menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga.

Harapan Perundingan Damai Menekan Harga

Pelemahan harga minyak pada Jumat terjadi setelah sejumlah sumber menyebut China mendorong dimulainya kembali perundingan damai antara AS dan Iran yang sebelumnya terhenti. Sentimen ini menekan harga karena pasar merespons peluang meredanya ketegangan di Timur Tengah.

“Tidak ada yang lebih disukai pasar ini selain harapan,” kata Mitra Again Capital, John Kilduff.

Ia menambahkan bahwa pasar tidak ingin tertipu, sehingga setiap petunjuk bahwa situasi tersebut mungkin dapat diselesaikan akan dimanfaatkan oleh pelaku pasar.

Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, menilai pasar energi masih berada dalam kondisi rentan meski harga sudah terkoreksi. Menurut dia, persediaan minyak secara umum masih cukup ketat. “Situasi ini bisa berubah dengan sangat cepat, sehingga perkembangan ke depan perlu terus dicermati,” kata Flynn.

Ketegangan Timur Tengah Masih Jadi Faktor Utama

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan “hukuman militer besar” terhadap Iran dan kelompok Houthi setelah serangan terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Iran sebelumnya disebut mendesak kelompok Houthi untuk menutup jalur Bab el-Mandeb apabila AS terus menyerang infrastruktur energi Iran. Jalur tersebut merupakan rute pengiriman energi terpenting kedua di dunia setelah Selat Hormuz.

Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih bertahan pada tiga kapal per hari dalam tiga hari terakhir. Kondisi ini menegaskan bahwa pasar masih mencermati risiko gangguan distribusi energi di kawasan tersebut.

Harga minyak yang sempat menyentuh 100 dollar AS per barrel kini memang terkoreksi, tetapi lonjakan dalam sepekan menunjukkan ketegangan geopolitik masih menjadi penentu utama arah pasar energi global.

Tags:

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Ekonomi.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar