Headline1
Ekonomi

IHSG Terkoreksi Lebih dari 1%, Investor Perlu Waspadai Apa?

11 September 2026
•3 menit
a tall building with a red and gold logo on it

Jakarta, Headline1.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada awal perdagangan Jumat (11/9/2026). Pada pembukaan, IHSG turun 36,55 poin atau 0,55% ke posisi 6.552,79.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, tekanan pada indeks makin dalam satu menit setelah pasar dibuka. Pada titik terendah, IHSG sempat terjatuh lebih dari 1% hingga menyentuh level 6.506. Di sisi lain, sebanyak 111 saham tercatat menguat, 243 saham melemah, dan 289 saham bergerak stagnan.

Aktivitas transaksi pada awal sesi juga terpantau cukup besar. Volume perdagangan tercatat mencapai 2,39 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1,07 triliun.

Sentimen Pasar Bergerak Hati-hati

Pergerakan pasar hari ini diperkirakan berlangsung hati-hati setelah sejumlah data ekonomi pada perdagangan sebelumnya memberi sinyal yang beragam. Dari dalam negeri, penjualan ritel Indonesia kembali tumbuh. Sementara itu, Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga sesuai perkiraan pasar.

Di sisi lain, inflasi produsen Amerika Serikat tercatat menguat dan kondisi pasar tenaga kerja di negara tersebut masih solid. Sejumlah data itu membuat investor kembali mencermati arah kebijakan moneter dan prospek ekonomi global.

Untuk perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada data inflasi produsen Jepang, inflasi konsumen AS, serta sentimen konsumen AS. Ketiganya berpotensi menjadi penentu arah pasar menjelang penutupan pekan ini.

Pergerakan harga minyak dan imbal hasil US Treasury juga tetap masuk dalam pantauan investor karena turut memengaruhi sentimen pasar global.

Bursa Asia-Pasifik Kompak Melemah

Sejalan dengan pelemahan IHSG, bursa saham Asia-Pasifik juga bergerak negatif pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Saham-saham di Korea Selatan dan Jepang menjadi penekan utama di kawasan tersebut.

Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, anjlok 2,7%. Sementara itu, Nikkei 225 Jepang turun 2,6% dan indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 1%.

Tekanan di bursa Asia terjadi setelah saham-saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Kamis, dipicu lonjakan harga minyak.

Minyak Naik, Treasury Terdorong

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak menembus US$100 per barel. Kontrak minyak AS dan Brent sama-sama mencatat harga penutupan tertinggi sejak 19 Mei, di tengah berlanjutnya konflik antara AS dan Iran yang kini memasuki bulan ketujuh.

Kenaikan harga minyak tersebut ikut mendorong imbal hasil surat utang pemerintah AS atau Treasury. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus 4,95% dan mencapai level tertinggi sejak Oktober 2023.

Pelaku pasar juga memperhatikan rilis indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS untuk Agustus yang diumumkan pada Kamis. Data tersebut menunjukkan PPI naik 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan, menandakan tekanan inflasi di tingkat grosir masih tinggi.

Menunggu Data CPI AS

Berikutnya, fokus investor bergeser ke rilis indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS untuk Agustus yang akan diumumkan pada Jumat. Data CPI menjadi salah satu indikator penting yang akan memengaruhi keputusan Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga dalam pertemuan 16 September mendatang.

Berdasarkan perdagangan Fed funds futures, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 71%, menurut CME Group melalui alat FedWatch.

Tags:

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Ekonomi.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar