PATI, Headline1.com - Andira, salah satu orangtua siswa SMPN 1 Gembong, panik ketika mendengar kabar anaknya diduga terdampak keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat kabar itu diterima, sang anak sudah berada di rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.
Sebelumnya, 231 siswa dari sejumlah sekolah di Pati mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap MBG. Menu tersebut dikonsumsi pada Selasa, (8/9/2026). Keluhan mulai dirasakan keesokan harinya, Rabu (9/9/2026), dan hingga Kamis (10/9/2026) jumlah korban yang terlaporkan bergejala meningkat menjadi 269 orang. Sejumlah siswa juga harus dibawa ke rumah sakit.
Kondisi Anak Saat Tiba di Rumah Sakit
Andira mengatakan dirinya mendapat telepon yang memberitahukan bahwa anaknya sedang dirawat di RSUD RAA Soewondo Pati. Ketika tiba di rumah sakit, ia mendapati sang anak masih tak sadarkan diri. Kondisi itu membuatnya terpukul.
“Saya dapat kabar itu sudah termasuk telat ke sini. Posisi anak saya sudah ditangani di sini, sudah dipasangi oksigen dan segalanya,” ujar Andira saat ditemui Kompas.com di RSUD RAA Soewondo Pati, Kamis (10/9/2026).
Ia menyebut tubuh anaknya terasa sangat dingin dan tidak merespons seperti biasanya. Dokter lalu meminta Andira mencoba berbicara dengan anaknya. Ia pun berusaha mengajak sang anak berkomunikasi, dengan harapan ada tanggapan.
“Coba diajak komunikasi, kayak ikatan batin,” tutur Andira, menirukan pesan dokter kepadanya.
Kondisi Berangsur Membaik
Setelah beberapa waktu, kondisi sang anak perlahan menunjukkan perubahan. Tubuhnya yang sebelumnya terasa dingin mulai menghangat. Bahkan, air mata sempat keluar dari mata anak Andira. Namun setelah sadar, ia masih merasakan gangguan pada tubuhnya.
Andira mengaku anaknya sempat merasa suara di sekitarnya seperti hilang lalu muncul kembali. Kondisi itu membuatnya semakin cemas. Meski begitu, saat ditemui, keadaan anak Andira disebut berangsur membaik.
Saat itu, anaknya sudah tidak lagi menggunakan oksigen dan sudah bisa berkomunikasi. Kendati demikian, keluhan pada bagian perut masih ada. Anak tersebut masih mengalami sakit perut dan mual, tetapi tidak bisa muntah.
“Sudah lebih baik, sudah lepas oksigen,” ujar Andira.
Trauma dan Pertimbangan Orang Tua
Setelah kejadian itu, anak Andira juga mulai menunjukkan trauma terhadap MBG. “Duh, bikin trauma kayak gitu MBG-nya,” ujar Andira menirukan perkataan anaknya.
Sebagai orang tua, Andira mengaku tidak bisa memaksa anaknya untuk kembali mengonsumsi makanan tersebut. Menurut dia, kondisi psikologis anak juga perlu mendapat perhatian.
Di sisi lain, ia tidak serta-merta meminta program itu dihentikan. Andira memahami bahwa banyak pihak menggantungkan penghasilan dari pelaksanaan MBG. Namun, menurutnya, tetap perlu ada evaluasi agar makanan yang diberikan kepada anak benar-benar aman dan layak dikonsumsi.
Ia juga berharap tidak ada kecurangan dalam proses penyediaan makanan bagi siswa. “Benar-benar dipastikan itu layak untuk dikonsumsi anak,” harapnya.
Penanganan Kasus Masih Berlanjut
Kasus dugaan keracunan MBG di Pati membuat Pemkab Pati menetapkan kejadian luar biasa (KLB) dan menanggung biaya pengobatan para korban. Di sisi lain, BGN juga menyisir 172 SPPG buntut dugaan keracunan MBG di Pati. Lembaga itu menyatakan akan memberikan tindakan tegas jika dapur dinilai tidak baik.
Di tengah proses penanganan tersebut, keluarga korban masih menunggu kepastian agar kejadian serupa tidak terulang. Bagi Andira, yang paling penting adalah memastikan makanan untuk siswa benar-benar aman sebelum dibagikan.




