Headline1
Tren

RI Masuk Daftar Negara Paling Rentan terhadap Super El Nino

26 Juli 2026
•3 menit
RI Masuk Daftar Negara Paling Rentan terhadap Super El Nino: Apa Dampaknya ke Ekonomi dan Cuaca? Ekonomi

JAKARTA – Inflasi global diperkirakan menghadapi tekanan baru seiring meningkatnya risiko terjadinya super El Nino yang beriringan dengan kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Laporan JPMorgan pada Jumat (24/7/2026), yang dikutip dari OilPrice, menyebut kombinasi super El Nino dan harga energi yang lebih tinggi berpotensi memperlambat penurunan inflasi global pada tahun depan. Bank investasi itu memperkirakan dampaknya bisa menambah sekitar 0,3 poin persentase terhadap inflasi utama atau headline inflation dunia.

Risiko El Nino dan energi mendorong tekanan inflasi

JPMorgan memperkirakan peluang El Nino saat ini berkembang menjadi fenomena “very strong” atau “super” mencapai 81 persen pada akhir tahun. Selain itu, bank tersebut juga menilai ada probabilitas 97 persen bahwa kondisi El Nino akan bertahan hingga 2027.

Menurut JPMorgan, masing-masing faktor itu sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan jika muncul secara terpisah. Namun, ketika keduanya terjadi bersamaan, dampaknya terhadap inflasi dinilai akan jauh lebih besar dan lebih sulit diredam.

Super El Nino berpotensi mengerek harga pangan

JPMorgan menjelaskan, super El Nino pada umumnya mengganggu produksi pertanian di Asia dan Amerika Latin melalui kekeringan, curah hujan yang berlebihan, serta perubahan musim tanam. Gangguan ini diperkirakan dapat mendorong inflasi pangan global sekitar 0,7 poin persentase pada puncaknya.

Namun, jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan harga minyak yang mencapai 100 dollar AS per barrel, pasokan solar yang makin ketat, kenaikan harga pupuk, meningkatnya biaya transportasi, dan ongkos pengemasan yang lebih mahal, kenaikan inflasi pangan diperkirakan bisa mencapai kisaran 1,3 persen hingga 1,5 persen.

Harga minyak mulai menunjukkan tekanan

Di sisi lain, pasar minyak disebut mulai memperlihatkan tekanan yang sejalan dengan skenario tersebut. Harga minyak mentah Brent pekan ini menembus level di atas 100 dollar AS per barrel setelah konflik di sekitar Selat Hormuz kembali memanas dan kelompok Houthi menyerang kapal tanker di Laut Merah.

Situasi itu mengancam dua jalur ekspor utama yang selama beberapa bulan terakhir menjadi andalan negara-negara produsen minyak di kawasan Teluk. Pada saat yang sama, Kazakhstan juga mulai memangkas produksi minyak setelah serangan pesawat nirawak menghentikan proses pemuatan tanker di terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di Laut Hitam.

Kondisi tersebut ikut mengurangi pasokan minyak mentah yang diperdagangkan di pasar internasional. Dengan pasokan yang tertekan dan harga energi yang bergerak naik, ruang penurunan inflasi global diperkirakan menjadi semakin sempit.

Pasar solar ikut terjepit

Tekanan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga pada pasar bahan bakar solar yang bahkan dinilai lebih ketat. Dalam skenario yang digambarkan JPMorgan, kombinasi gangguan pasokan energi dan dampak cuaca ekstrem berpotensi memperbesar tekanan biaya di berbagai sektor, termasuk pangan dan distribusi.

Di tengah risiko tersebut, inflasi global diperkirakan harus menghadapi tantangan tambahan jika super El Nino benar-benar berkembang bersamaan dengan lonjakan harga energi. Dalam proyeksi JPMorgan, gabungan dua faktor ini bisa menahan laju penurunan inflasi pada tahun depan dan memberi tekanan lebih besar pada harga-harga dunia.

Tags:

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Tren.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar