Mayoritas mata uang Asia bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Pada pukul 09.17 WIB, data Refinitiv menunjukkan delapan dari 10 mata uang Asia yang dipantau berhasil berada di zona hijau, sementara dua lainnya masih melemah.
Rupiah menjadi mata uang Asia dengan penguatan paling besar pada pagi ini. Nilai tukar mata uang Garuda tercatat terapresiasi 0,43% ke level Rp17.550 per dolar AS.
Rupiah Pimpin Penguatan Mata Uang Asia
Di belakang rupiah, yen Jepang turut menunjukkan penguatan sebesar 0,23% ke posisi JPY 153,6 per dolar AS. Dolar Taiwan juga bergerak naik 0,11% menjadi TWD 31,471 per dolar AS.
Pergerakan positif turut terlihat pada sejumlah mata uang Asia lain. Dong Vietnam menguat 0,05% ke level VND 25.962 per dolar AS. Yuan China dan baht Thailand sama-sama naik 0,03%, masing-masing ke CNY 6,7082 per dolar AS dan THB 32,86 per dolar AS.
Won Korea Selatan dan dolar Singapura juga ikut menguat meski tipis, masing-masing sebesar 0,02%. Won berada di level KRW 1.339,8 per dolar AS, sedangkan dolar Singapura tercatat di posisi SGD 1,264 per dolar AS.
Ringgit dan Peso Masih Tertekan
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang yang mengalami tekanan paling dalam di kawasan Asia pada pagi hari ini. Ringgit melemah 0,20% ke posisi MYR 4,065 per dolar AS.
Peso Filipina juga bergerak di zona merah dengan penurunan 0,07% ke level PHP 62,405 per dolar AS. Dengan demikian, hanya dua mata uang yang belum mampu menguat terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Dolar AS Masih Dibayangi Pergerakan Yen
Pergerakan dolar AS masih menjadi faktor utama yang memengaruhi mata uang Asia. Indeks dolar AS atau DXY tercatat naik tipis 0,01% ke posisi 98,796. Namun, penguatan itu belum cukup untuk menunjukkan dolar AS benar-benar pulih.
DXY masih berada di bawah level 99, seiring tekanan dari penguatan yen Jepang yang belakangan bergerak cukup tajam. Yen sempat menyentuh JPY152,89 per dolar AS pada perdagangan Selasa dan saat ini bergerak mendekati level terkuat sejak Februari.
Penguatan yen ikut menahan laju dolar AS. Pasalnya, yen merupakan salah satu komponen utama dalam perhitungan indeks dolar AS. Ketika yen menguat tajam, tekanan terhadap DXY ikut meningkat.
Dalam beberapa hari terakhir, yen Jepang menjadi sorotan karena tercatat menguat sekitar 4% sepanjang September. Kenaikan ini mulai mengubah perhitungan dalam transaksi carry trade, yakni strategi meminjam yen dengan biaya rendah untuk ditempatkan pada aset atau mata uang lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Ekspektasi BOJ dan Inflasi AS Jadi Sorotan
Penguatan yen didorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ), potensi repatriasi dana investor Jepang dari luar negeri, serta tekanan dari Washington agar yen bergerak lebih kuat.
Pasar secara luas memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September mendatang. Meski begitu, arah yen ke depan masih akan sangat bergantung pada nada kebijakan Gubernur BOJ Kazuo Ueda.
"Fair value untuk yen berada di kisaran 140-an menurut estimasi kami, dan pergerakan lebih lanjut ke arah tersebut tidak sepenuhnya mengejutkan setelah sebelumnya terjadi pelemahan yen yang berlebihan," ujar Aninda Mitra, head of Asia macro and investment strategy BNY Investments, dikutip dari Reuters.
Di sisi lain, dolar AS juga masih mendapat penahan dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi. Harga minyak Brent naik lebih dari 1,48% ke US$99,37 per barel setelah konflik di Timur Tengah kembali melebar.
Eskalasi terjadi setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan ke sejumlah kota di Arab Saudi. Sementara itu, pasukan AS menyerang beberapa kapal tanker minyak Iran dan Iran menargetkan pangkalan AS di Yordania.
Kenaikan harga minyak membuat pasar kembali mencermati risiko inflasi global. Kondisi ini menjadi penting karena data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat pekan ini akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed.
OCBC menilai eskalasi terbaru di Timur Tengah membuat dampak harga energi terhadap kebijakan The Fed kembali menjadi perhatian, terutama setelah laporan tenaga kerja AS yang kuat pekan lalu kembali menghidupkan ekspektasi kenaikan suku bunga.
"Untuk saat ini, harga minyak dan yield yang lebih tinggi dapat membantu membatasi pelemahan dolar AS, tetapi kami menduga pergerakan yang lebih tegas membutuhkan konfirmasi dari data inflasi mendatang," tulis OCBC, dikutip dari Reuters.
Dengan sentimen tersebut, rupiah masih menjadi salah satu mata uang yang paling mencuri perhatian di Asia pada perdagangan pagi ini. Namun, arah berikutnya tetap akan banyak ditentukan oleh perkembangan dolar AS, kebijakan bank sentral utama, dan rilis data inflasi AS dalam beberapa hari ke depan.




