JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot menutup perdagangan Senin (27/7/2026) dengan pelemahan. Mata uang garuda turun 46 poin atau 0,26 persen dan parkir di level Rp 18.009 per dollar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam tujuh hari perdagangan terakhir. Tekanan terhadap rupiah juga terlihat lebih besar dibandingkan pembukaan pagi tadi, ketika rupiah dibuka di level Rp 17.976 per dollar AS.
Rupiah dan won Korea Selatan jadi yang melemah di Asia
Di saat yang sama, indeks dollar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB tercatat melemah 0,26 persen ke posisi 101,203.
Di kawasan Asia, rupiah menjadi salah satu dari sedikit mata uang yang tertekan terhadap dollar AS pada perdagangan sore ini. Selain rupiah, hanya won Korea Selatan yang tercatat melemah, dengan penurunan lebih dalam sebesar 0,75 persen. Rupiah sendiri terkoreksi 0,26 persen.
Adapun mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dollar AS. Rupee India mencatat penguatan paling besar, yakni 0,67 persen. Setelah itu disusul baht Thailand yang naik 0,41 persen.
Sejumlah mata uang lainnya juga berada di zona hijau, antara lain dollar Taiwan yang menguat 0,27 persen, peso Filipina 0,26 persen, yen Jepang 0,20 persen, ringgit Malaysia 0,10 persen, yuan China 0,06 persen, dollar Singapura 0,05 persen, serta dollar Hong Kong yang naik tipis 0,006 persen terhadap dollar AS.
Volatilitas meningkat usai kabar pengunduran diri Perry Warjiyo
Pergerakan rupiah yang terlihat lebih volatil terjadi setelah muncul kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Kondisi ini ikut memicu gejolak di pasar keuangan domestik.
Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pasar merespons negatif langkah Perry tersebut. Perry diketahui telah mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (26/7/2026). Presiden disebut telah menerima surat itu dan menyampaikan apresiasi atas dedikasi Perry selama menjabat sebagai Gubernur BI.
“Pengunduran diri Perry terjadi di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus melemah seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama antara Amerika Serikat dan Iran. Situasi tersebut turut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik,” ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, pengunduran diri Perry berlangsung ketika rupiah masih berada di bawah tekanan akibat perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran disebut menjadi salah satu faktor yang ikut menambah kecemasan pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik.
Isu independensi BI dan sorotan atas fiskal
Di sisi lain, isu independensi Bank Indonesia juga kembali menjadi perhatian. Dalam beberapa waktu terakhir, Presiden, pemerintah, dan DPR disebut kerap melakukan intervensi terhadap independensi bank sentral, sehingga pengunduran diri Perry dinilai tidak lepas dari dinamika tersebut.
Sementara itu, rasio utang pemerintah Indonesia yang berada di kisaran 40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dinilai perlu dipahami secara lebih utuh. Penilaian terhadap kondisi fiskal tidak cukup hanya bertumpu pada besarnya rasio utang terhadap PDB, tetapi juga harus melihat kemampuan pemerintah membayar utang serta kualitas pemanfaatan utang tersebut.
Rasio utang terhadap PDB memang lazim digunakan lembaga internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF), untuk menilai kondisi fiskal suatu negara. Namun, indikator itu bukan satu-satunya ukuran kesehatan fiskal.
Indikator yang dinilai lebih penting adalah rasio pembayaran pokok utang beserta bunganya terhadap pendapatan negara. Rasio ini dianggap lebih mencerminkan kemampuan riil pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang.




