Headline1
Ekonomi

Harga Minyak Dunia Bergejolak Usai Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz dan Laut Merah

26 Juli 2026
•2 menit
Harga Minyak Dunia Bergejolak Usai Serangan Kapal Tanker di Selat Hormuz dan Laut Merah Ekonomi

Jakarta - Jalur perdagangan energi dunia kembali terguncang seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, Laut Merah, membuat pasar energi global semakin tidak stabil.

Serangan terhadap tanker-tanker tersebut tidak terjadi tanpa tujuan. Dalam konteks perang ekonomi, aksi ini dimaksudkan untuk mengganggu pergerakan lawan dan membatasi sumber dayanya. Iran, misalnya, disebut meningkatkan serangan terhadap kapal tanker di dalam dan sekitar Selat Hormuz sepanjang bulan ini dalam upaya mengambil alih kendali atas jalur yang sangat strategis itu.

Serangan di Selat Hormuz dan Laut Merah

Di sisi lain, sekutu Iran, Houthi di Yaman, menembaki dua kapal tanker milik Arab Saudi di Laut Merah setelah menyatakan embargo maritim terhadap Arab Saudi. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mencatat, sejak 1 Maret sudah ada 61 kapal dagang yang diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Serangan-serangan itu menewaskan 17 pelaut dan melukai puluhan orang lainnya.

“Iran dan Houthi bersama-sama kini memberikan pukulan yang sangat signifikan terhadap kepentingan nasional Amerika, perusahaan minyak Amerika, dan tentu saja Arab Saudi. Namun mereka tidak berhasil sepenuhnya menekan ekspor,” kata Dimitris Maniatis, CEO layanan risiko maritim Marisks, dikutip dari CNBC, Sabtu (25/7/2026).

Perang energi di berbagai lini

Tekanan terhadap jalur dagang energi tidak hanya datang dari Timur Tengah. Konflik Rusia dan Ukraina juga ikut membuat peta perdagangan energi dunia semakin rumit. Ukraina mengaku telah menyerang lebih dari 150 kapal tanker, kapal kargo, dan kapal lain yang terkait dengan armada bayangan Rusia di Laut Azov dan Laut Hitam.

“Pasar minyak saat ini sedang menghadapi perang di berbagai lini,” kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global.

Situasi ini membuat harga minyak mentah Brent, yang kerap dijadikan acuan global, sempat menembus level US$ 100 per barel dalam perdagangan Kamis (23/7) kemarin. Pergerakan harga itu menunjukkan betapa rentannya rantai pasok energi dunia di tengah konflik bersenjata yang berlangsung di sejumlah wilayah.

Dampak ke pasar minyak mentah

Croft menjelaskan, Rusia kini telah memberlakukan larangan ekspor produk, sementara kilang-kilangnya juga terpukul berat akibat serangan Ukraina. Menurut dia, Rusia merupakan salah satu eksportir produk terbesar sekaligus salah satu pengekspor diesel terbesar.

“Hal ini benar-benar memperketat pasar produk serta pasar minyak mentah,” kata Croft.

Dengan gangguan yang terus terjadi di beberapa jalur penting sekaligus, pasar energi global masih berada dalam tekanan. Kondisi ini membuat harga minyak tetap bergerak liar seiring meningkatnya risiko terhadap pengiriman dan pasokan.

Bagikan Artikel:

Tentang Penulis

Erwin

Penulis di kategori Ekonomi.

Lihat profil & tulisan

Komentar

(0)
Memuat komentar…

Tulis komentar