Jakarta - Tanda-tanda meluasnya perang Iran mulai tampak pada akhir pekan ini, meski Amerika Serikat (AS) memutuskan menangguhkan gelombang serangannya. Pada saat yang sama, kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi di sepanjang pesisir Laut Merah. Iran pun menuduh Ukraina menargetkan kapal komersial miliknya di Laut Kaspia.
Militer AS pada Sabtu (25/7) menyatakan blokade laut terhadap Iran masih berlaku penuh, tetapi tidak menjelaskan alasan di balik penghentian gelombang serangan yang sebelumnya berlangsung selama 13 malam berturut-turut.
Menanggapi jeda serangan itu, seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump menegaskan arah kebijakan Washington.
“Trump selalu memperjelas bahwa pilihannya adalah jalur diplomasi, tetapi beliau telah menunjukkan kepada Iran apa yang akan terjadi jika mereka gagal berunding secara serius,”
ujarnya, dikutip dari Reuters, Minggu (26/7/2026).
Pada hari Sabtu, tidak ada laporan serangan balasan dari Iran ke negara-negara tetangga. Kondisi ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika Iran setiap hari melancarkan respons atas gempuran AS.
New York Times pada Sabtu malam, mengutip dua sumber yang memahami pembahasan tersebut, melaporkan bahwa Trump telah memutuskan mundur dari rencana awal untuk meningkatkan serangan terhadap Iran. Presiden dan para penasihatnya disebut khawatir konflik akan meluas, cadangan pertahanan menipis, hubungan dengan sekutu Teluk Persia merenggang, serta pasokan energi dan ekonomi global ikut terganggu.
Serangan Houthi dan Ancaman terhadap Jalur Minyak
Meski situasi di Teluk sempat mereda, bentrokan antara Houthi dan Arab Saudi pada Sabtu menunjukkan perang ini belum benar-benar surut. Konflik yang sebelumnya mengganggu pasokan energi melalui Selat Hormuz kini juga mengancam jalur pelayaran utama lainnya, sekaligus berpotensi memicu kembali perang saudara di Yaman.
Secara terpisah, Kementerian Luar Negeri Iran menuduh Ukraina menyerang kapal komersial milik Iran di Laut Kaspia. Serangan itu memicu ledakan yang menewaskan seorang pelaut dan melukai seorang pelaut lainnya.
Sebelumnya pada Sabtu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy lewat unggahan di media sosial memuji hasil “serangan jarak jauh” di Laut Kaspia yang menargetkan kapal-kapal pengangkut kargo militer. Ia tidak menyebutkan kewarganegaraan kapal yang menjadi sasaran.
Fasilitas Saudi Aramco Jadi Sasaran
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompoknya menyerang lokasi-lokasi milik perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, di Jizan dan Yanbu. Rekaman video di media sosial yang telah diverifikasi Reuters memperlihatkan kepulan asap tebal membubung dari arah kilang minyak Aramco di Jizan.
Dua sumber perdagangan di Asia juga mengonfirmasi adanya informasi mengenai potensi kerusakan pada fasilitas penyimpanan bahan bakar dan minyak di Jizan.
Di Yanbu, dua rudal balistik yang diarahkan ke fasilitas minyak berhasil dicegat oleh sistem pertahanan Patriot buatan AS. Sistem itu dioperasikan di Arab Saudi oleh militer Yunani berdasarkan perjanjian dengan Riyadh, menurut sumber keamanan Yunani.
Yanbu merupakan pelabuhan minyak utama Arab Saudi di Laut Merah dan menjadi jalur penting untuk mengalirkan minyak mengitari Selat Hormuz yang diblokade Iran. Sementara itu, kilang minyak di Jizan yang terletak dekat perbatasan Yaman diketahui mampu memproses hingga 400.000 barel minyak per hari.
Di Yaman, angkatan udara dari pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyerang lokasi peluncuran dan gudang senjata Houthi di provinsi Marib dan al-Jawf. Sebelum itu, aliansi militer pimpinan Arab Saudi juga membombardir posisi militer Houthi di pelabuhan Laut Merah, Hodeidah, pada Jumat. Para pejabat Yaman menyebut kedua pihak kini mulai memobilisasi pasukan di sepanjang garis depan.
Koalisi Arab, Gencatan Senjata, dan Blokade Laut
Arab Saudi telah memimpin koalisi Arab melawan Houthi selama lebih dari satu dekade, sejak kelompok yang bersekutu dengan Iran itu merebut ibu kota Yaman, Sanaa.
Perang saudara Yaman yang telah menewaskan ratusan ribu orang akibat pertempuran dan kelaparan sempat mereda lewat kesepakatan gencatan senjata sejak 2022. Namun, gencatan senjata itu runtuh bulan ini setelah Houthi secara efektif bergabung dalam perang yang lebih luas yang dilancarkan sekutu Iran mereka, menyusul serangan oleh AS dan Israel.
Selama sepekan terakhir, Houthi menyatakan telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, menegaskan bahwa seluruh fasilitas minyak Arab Saudi dapat menjadi target. Pada Kamis, Houthi juga terbukti menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.
Di sisi lain, pasukan AS baru-baru ini melanjutkan blokade mereka terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. U.S. Central Command (CENTCOM) menyampaikan pada Jumat bahwa mereka telah melumpuhkan sebuah kapal di Teluk Oman yang awaknya berupaya menerobos blokade meski telah diberi peringatan berulang kali.
Gencatan senjata sementara itu secara efektif runtuh dua minggu lalu, setelah pasukan AS menyerang target-target di Iran selatan sebagai respons atas gangguan pelayaran oleh Iran di Selat Hormuz.
Pada Jumat (24/7), Trump mengatakan AS dan Iran sedang dalam pembicaraan untuk merundingkan penghentian konflik, tetapi ia kembali menegaskan bahwa Teheran belum siap mencapai kesepakatan.
Perkembangan di berbagai titik konflik ini menunjukkan ketegangan belum mereda, sementara jalur energi dan pelayaran tetap berada dalam tekanan. Di tengah jeda serangan AS, serangan Houthi, tuduhan Iran terhadap Ukraina, dan masih berlanjutnya blokade laut, kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dunia ikut menguat.





